oleh Kamilia Manaf.
Homoseksual, di antaranya gay dan lesbian, adalah hal yang normal dan alamiah. Pernyataan tersebut disampaikan dr. Lukas Mangidaan, ini diperkuat secara resmi oleh Persatuan Psikolog Indonesia semenjak 1982. Psikiater dari Universitas Indonesia tersebut, dalam diskusi bulanan yang diselenggarakan Institut Pelangi Perempuan (IPP) di Sekretariat Yayasan Jurnal Perempuan, Sabtu (14/10), juga menyatakan begitu pentingnya bagi seorang homoseksual menerima, mengerti dan memahami keberadaan orientasi seksual mereka. Karena, lanjutnya, selain dapat membentuk psikologi yang lebih sehat bagi diri mereka sendiri tapi juga akan membantu dalam proses pemahaman dan penerimaan orang tua ketika mereka harus terbuka mengenai keberadaan orientasi seksual yang dimiliki.
Akan tetapi, penerimaan keluarga atau orang tua juga merupakan faktor yang tidak kalah penting dalam proses ini. Karena tidak semua dapat menerima bilamana salah satu anggota keluarga mereka diketahui menjadi seorang homoseksual. Sebut saja Lily, lesbian berusia 30 tahun ini bahkan pernah mengalami kekerasan dari orang tuanya. “Wajah saya dipukuli dengan balok kayu bertubi-tubi sehingga rahang saya patah. Setelah itu keluarga saya memasukkan saya ke dalam rumah sakit jiwa karena saya dianggap tidak waras,” ungkapnya dalam diskusi, sekaligus pemutaran film “Coming Out to Your Parents” tersebut.
Pengalaman berbeda dituturkan Maggy Agusta, pekerja media di harian Jakarta Post, seputar pengalamannya dalam kesehariannya sebagai ibu rumah tangga yang memiliki seorang anak laki-laki gay. Menurutnya, penting bagi remaja gay atau lesbian untuk bergabung dalam sebuah “support group”, seperti IPP. IPP sebagai sebuah organisasi yang memberikan pemberdayaan dan penguatan bagi kelompok lesbian muda di Indonesia dan memperjuangkan hak seksualitas lesbian bisa dijadikan kelompok pendamping bagi mereka dalam menghadapi berbagai permasalahan keseharian mereka sebagai kelompok minoritas, terutama bagi mereka yang tidak mendapat dukungan dari keluarga. Hal tersebut diperkuat pernyataan searang peserta diskusi, Lia, yang merasakan mendapatkan penguatan psikologi ketika bergabung dengan organisasi IPP.
Selain itu, literatur atau artikel-artikel wacana homoseksualitas yang tidak diskriminatif juga berperan penting dalam memberikan proses pemahaman. Disarankan bagi mereka untuk mengumpulkan dan mensosialisasikannya kepada orang tua mereka.
