Published on March 11, 2015, by admin in Buku.

book-ppPenulis:
Kamilia Manaf
Dewi Nova Wahyuni
Ikram Baadila

Kontributor:
Ni Loh Gusti Madewanti
Nyx Mclean
Manjima Bhattacharjya

Di Indonesia, seksualitas menjadi wacana yang semakin terbuka diranah publik. Pertarungan wacana seksualitas diperluas jangkauannya oleh Internet. Di satu sisi, internet telah memberi ruang bagi kemajuan Hak Asasi Manusia (HAM) termasuk HAM Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Interseks dan Queer (LGBTIQ). Di sisi lain, internet juga menjadi ruang yang digunakan untuk memperburuk dan melanggengkan diskriminasi dan kekerasan terhadap warga LGBTIQ, yang sebelumnya sudah terjadi di ruang fisik. Hal itu, akibat belum adanya perlindungan HAM LGBTIQ pada tata kelola internet, sebagaimana masih lemahnya perlindungan serupa di ruang fisik.

Pelecehan, perundungan yang bersifat homofobik (homophobic bullying) dan hasutan kebencian terhadap LGBTIQ di dunia daring (online) atau yang disebut sebagai cyber-homophobia seperti menjadi kebiasaan yang dibiasakan di jejaring sosial dan media daring lainnya. Belum lagi kasus pemblokiran situs LGBTIQ oleh beberapa Internet Service Provider (ISP) atau penyedia jasa layanan internet terjadi sejak 2011. Pemblokiran terjadi secara sepihak, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada pemilik situs web, dan tanpa alasan yang jelas dan akuntabel. Pemblokiran dan pemutusan akses terhadap informasi – pengetahuan situs LGBTIQ ini tanpa didahului melalui proses komunikasi yang transparan dari pihak ISP ataupun Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo RI).

Hal ini jelas merugikan setiap individu maupun kelompok dalam upaya mengakses informasi mengenai hak asasi manusia, hak kesehatan reproduksi maupun hak seksualitas.