Published on October 22, 2010, by in Cerpen.

Pagi ini, tanaman-tanaman di halaman belakang rumah mulai memperlihatkan bunga-bunganya yang cantik.Aku tersenyum saat melihatnya. Pagi yang sempurna seolah tercipta hanya untukku sendiri. Selepas dari mimpi semalam yang begitu indah, alam pagi masih juga memanjakanku. Entah dimana terselip sandal jepitku, terpaksa dengan telanjang kaki kuinjak lapisan rumput berembun. Sejuk. Menyenangkan.

Pintu geser yang terbuka menghubungkan langsung ke kebun kecilku. Dulu, halaman kecil rumah kontrakanku ini hanya bidang persegi dilapisi rumput hijau tempat jemuran pakaian dengan empat tali yang dibentangkan. Aku sama sekali tidak tertarik menghabiskan waktu luangku di halaman kecil ini, biarpun dari tempat ini bisa menikmati hembusan angin sepoi-sepoi. Apa enaknya coba?

Begitu dekat jarak antara hidung dan kelopak mawar, tercium harumnya bagaikan sesuatu yang begitu sensual. Jariku perlahan menyentuhnya.Tetesan embun berpindah ke telapak tangan. Kubasuhkan pada seluruh permukaan wajah. Terhapuslah krim malam racikan seorang dokter langgananku. Aw! Tidak sengaja salah satu duri tersenggol, menggores punggung tanganku tetapi tidak sampai berdarah. Setiap kali bercengkrama dengan bunga-bunga mawar acapkali tanganku jadi korban. Padahal orang yang mengajariku melakukannya tidak pernah tergores sedikit pun.

Aku memang iri kepadanya. Dia tahu, bagaimana cara memperlakukan segala sesuatu dengan baik. Tahu seluk-beluknya meski dia buta dengan teori, setiap sentuhannya seolah punya irama. Apapun yang disentuhnya akan terdiam menurut. Luar biasa. Termasuk aku, terdiam  terkena sentuhannya. Dia itu, tidak lebih dari seorang pengamen jalanan. Hanya itu, yang dia katakan setiap kali pertanyaan seputar asal-usul aku ucapkan. Berlaku juga dengan namanya; hanya Tia, tidak ada nama lain, baik di depan atau di belakang namanya.

Tidak masalah sebenarnya siapa dia. Selama ini sosoknya lebih sebagai orang baik-baik ketimbang orang jahat dimataku. Dulu, aku lebih senang berkumpul dengan teman-teman kantor sepulang jam kerja di kedai kopi yang berbeda-beda. Merilekskan tubuh lelah seraya menyesap kopi racikan tangan. Kupikir itu adalah kemewahan yang luar biasa, yang tidak tergantikan. Setelah itu, begitu gelap menjelang kutumpangi bis kota menuju rumah sambil sepanjang perjalanan kukirim beberapa pesan untuk calon-calon kekasihku. Cukup sebagai hiburan, ketimbang memperdulikan pengamen yang naik-turun dan bernyanyi dengan nada-nada sumbang.

Tempat tujuanku tidak begitu jauh lagi, ketika bis berhenti sesaat menaikkan dua pengamen. Dua orang laki-laki.  Satu bawa gitar, satu lagi bawa gendang kecil. Mereka berdiri di depanku. Paha si pemain gitar menempel di pahaku. Aku mengumpat dalam hati.Celana jinsnya sobek-sobek dan lusuh. Sudah pasti tidak pernah dicuci. Tidak kusembunyikan ekspresi jijik di wajahku.Mungkin dia melihatnya.

Si pemain gitar menyanyi seraya memetik gitar dengan anggun. Suaranya lembut terdengar di telinga. Bukan genjrang-genjreng sembarangan. Kuangkat kepala dan hendak melihat wajahnya.Aku terheran; oh, dia bukan seorang laki-laki! Kebetulan pandangannya bertemu denganku. Senyumannya terulas membuat jantungku berdesir. Aku membuang muka.Si pengamen itu mau merayuku atau apa?  Ngaca dong, batinku.

Kurogoh saku jaket saat gelas plastik teman si pemain gitar terarah kepadaku,tidak kutemukan koin sama sekali. Jemariku kemudian menyentuh selembar uang lima ribuan kembalian dari kedai kopi yang tersimpan di saku celana bahanku.  Itulah yang kumasukkan ke dalam gelasnya. Pengamen itu terkejut dan bermaksud mengembalikan uangku, tapi cepat-cepat kugelengkan kepala. Si pemain gitar kembali melemparkan senyuman. Kenapa lagi-lagi jantung ini berdebar? Apalagi kemudian mereka turun bersama denganku. Berjalan di belakangku sambil bersenda gurau, entah apa yang menjadi bahan tertawaan mereka, padahal jalanan sangat sepi dan langit semakin gelap. Kudengar genjrang-genjreng gitar memainkan lagu milik kelompok musik GIGI. Nadanya kacau. Kutolehkan kepala. Pantas. Bukan perempuan itu yang memainkan gitar. Dia hanya menenteng gendang temannya.

Sampai di depan rumah, kubuka pagar dan langsung menguncinya. Pintu kubuka dan begitu masuk ke dalam langsung kukunci. Kedua pengamen itu nampak berdiri di dekat pagar rumahku masih bercakap-cakap. Aku tiba-tiba merasa takut. Jangan-jangan keduanya mau berbuat jahat.

Keesokan hari di waktu yang sama, pengamen itu kembali naik di bis yang kutumpangi.  Kali ini tidak bersama kawannya. Dia sendirian saja, berdiri seraya bersandar di kursi di depanku. Punggungnya menempel sekenanya di sandaran bersarung kulit yang mulai terkelupas.  Supir yang kadang mengerem mendadak tidak membuat tubuhnya limbung. Pandangan matanya sering terarah padaku.Tidak mengedip-ngedip nakal, tetapi menatap dengan lembut seperti kemarin. Membuatku salah tingkah.Tidak mungkin hanya karena itu, aku mendampratnya. Lagipula aku tidak tega. Dia terlihat ramah dan dewasa, walau usianya masih sepantaran denganku.Suaranya bagus.Selera lagunya sama denganku.

Hari demi hari, pertemuan diantara kami terus terjadi. Hanya diantara berdua. Di tempat yang sama seperti biasa aku turun, selalu dia pun ikut. Mengikuti langkahku hingga tiba di rumah dengan selamat. Lama-lama kebiasaan itu membuat perasaanku nyaman, terasa ada yang menjaga walau saat dia tidak disisiku. Tubuhnya berisi, terlihat tangguh. Pasti jago berkelahi, pikirku.

Suatu malam dia berjalan di sebelah kananku. Menyusuri jalanan melewati sampai sekitar lima puluh meter dengan diam. Aku tidak berani memulai pembicaraan, jika melirik pun aku tidak mau dia tahu. Saat kami berhenti di depan pagar rumah.Tanganku ragu-ragu ketika membuka gembok pagar. Kuminta mampir atau tidak? Apakah dia menemaniku pulang selama ini tanpa maksud apa-apa? Di mana temannya? Kenapa dia tidap pernah lagi mengamen bersama temannya? Di tengah-tengah sejumlah kebingungan itu, pintu pagar kudorong lebar-lebar. Dia melangkah masuk dan menunggu sampai kukunci pagar. Begitu pula saat membuka pintu rumah, dia begitu saja ikut masuk mengikuti aku.  Saat lampu kunyalakan, ruangan menjadi terang-benderang usai lampu nampaklah seisi rumah mungilku. Sederhana, cukup untukku yang hidup seorang diri.

Malam itu, kami berkenalan sambil menonton TV. Prosesnya mengalir begitu saja, aku banyak bercerita dibandingkan dia. Tanpa ada prasangka apa-apa kuberitahu dimana kantorku bahkan sampai berapa gajiku perbulan. Tanpa ada prasangka apa-apa pula, sebelum dia pamit pulang sebuah ciuman mendarat dipipiku. Lemas aku dibuatnya. Tapi tidak lebih dari itu. Malam sudah semakin larut. Dia berkata bahwa rumahnya agak jauh, sehingga tidak mau melewatkan bis terakhir.

Tia datang lagi.  Seperti biasa sebagai pengamen bis yang tengah mengais rejeki. Kemudian kami turun mampir di sebuah warung nasi uduk dan menyantap ayam goreng kremes. Sepulang kantor sengaja perutku tidak kuisi dengan makanan kedai kopi. Sebab Aku ingin mengajak Tia makan malam; satu porsi ayam kremes dan nasi uduk dilahapnya habis! Kupesankan segelas jus alpukat untuknya dan segelas jus apel untukku. Dia menyeruput dengan rakus sampai benar-benar gelas tinggi berbahan kaca kosong. Kugeser gelasku.

“Mau?”

“Boleh?” tanyanya dengan agak segan. Aku mengangguk seraya menggeser gelas sampai benar-benar dihadapannya. Mendengar jawabanku, dia langsung menghabiskan jus dengan cepat.  Sehelai tisu kuambil untuk menyeka sekitar bibirnya yang berwarna kehitaman.

“Kamu tidak capek setiap hari mengamen?  Tidak takut suaramu habis?” Tanyaku sambil cepat-cepat meremas tisu karena beberapa orang melihat ke arah kami.Tia menggeleng. Dia mengeluarkan sebungkus permen karet dari dalam sakunya.

“Aku hanya punya satu.  Bagi dua ya?”

Aku mengangguk. Dia membagi setengah permen karet berbungkus kuning padaku.  Sebelum orang-orang melihat kami dengan aneh, tidak kubiarkan Tia menyuapkan permen ke mulutku,“kamu perokok?” Tanyaku.

Tia menarik nafas dalam-dalam.

“Kamu benci perokok, Her?” Tia balik bertanya. Tangannya bertopang di meja kayu berbentuk bundar. Satu kaki ditumpangkan ke atas pahanya yang lain persis seperti seorang koboi sedang duduk. Aku ragu untuk menjawab. Takut nanti menyinggungnya.

“Aku hanya membelikan rokok untuk kawan-kawan. Sudah lama aku berhenti karena lebih baik uangnya dipakai untuk kebutuhan lain. Ya, dulu aku perokok. Mudah sekali menebaknya, bukan?”

Kepalaku terangguk.

Kemudian kami berjalan melewati jalanan yang dipadati warung-warung tenda penjual makanan.Makanan-makanan dari harga tinggi dengan kualitas rasa yang terbaik sampai makanan murah dengan rasa sulit digambarkan dengan kata-kata semuanya ada. Orang-orang punya selera sendiri dan bebas menentukan menu makan malam mereka. Namun kami berdua sudah kekenyangan hingga tidak terpikir untuk singgah dan mengisi perut. Menjelang ujung jalan yang mulai sepi dari penjual makanan, kurasakan Tia menggandengku. Telapak tangan kasar bersentuhan dengan telapak tanganku yang halus terawat. Aku ingin pura-pura melepaskan gandengannya, tapi dia seolah tak ingin melepaskan. Lama-lama dia merangkul bahuku hingga tubuh kami begitu dekat.

Kami berhenti di depan pagar rumah. Kini, kedua tangannya sudah tidak lagi bertengger di bahuku tapi menyelip di kedua saku celana panjangnya. sesaat kami sama-sama terdiam.  Kuedarkan pandangan ke sekeliling.  Sepi. Tentu, orang-orang sudah berada di dalam rumah masing-masing. Kepalaku sedikit mendongak untuk melihat wajahnya yang jauh lebih tinggi dariku.

“Besok aku ada urusan ke Solo. Kamu ikut, ya?” ucapnya dengan nada datar, seperti biasa. Tatapan matanya selalu tajam dan menusuk hati. Perlahan tangan kanannya menyentuh bahuku.

“Besok masih hari kerja.Aku tidak mungkin bolos, banyak laporan harus diselesaikan sebelum…”

Dia memotong,”Aku tahu. Tidak apa-apa.” Mulutku seketika mengatup. Sorot matanya kecewa, nampak jelas terpancar sampai-sampai ingin kuralat jawabanku tadi.

“Ini mendadak sekali, Tia. Kalau akhir minggu pasti aku ikut.Toh, hanya satu jam perjalanan dari sini. Kenapa tidak bilang dari tadi saja. Mungkin aku bisa memikirkan caranya supaya bisa ikut denganmu. Aku sungguh-sungguh ingin ikut…” kataku dengan sejujur-jujurnya.

“Aku baru saja ingat. Tidak bisa kutunda karena ini sangat penting.” jawabnya masih dengan nada datar.

“Seberapa penting?” selidikku ingin tahu.

Tia mengangkat bahu. Hanya itu jawabannya. Membuatku tersiksa oleh rasa ingin tahu. Malamnya, aku tidur tidak nyenyak malah bermimpi buruk dan aneh-aneh. Mengapa aku merasa begini? Wajarkah? Wajarkah ada prasangka macam-macam pada teman sendiri? Wajarkah jika kuakui, aku takut Tia tidak kembali ke kota ini setelah dia ke Solo?

Keesokan harinya, aku terbangun dengan keringat membanjiri tubuh. Kepalaku pusing dan cepat-cepat kembali kupejamkan mata. Perutku mual tanpa sebab lalu muntah-muntah di wastafel. Ada apa ini? Kugeser pintu belakang lalu memandangi halaman.

Minggu lalu, Tia meminta izin memindahkan mawar ke halamanku. Dia bilang mawar itu akan tumbuh lebih baik jika berada di halaman rumahku. Memang hari ini belum banyak mawar yang mekar. Pesannya agar setiap pagi kutengok keadaan mereka, jangan sampai mati karena kurang air. Dengan pengetahuan minim dengan senang hati mawar-mawar titipan itu kurawat. Bermain tanah sama sekali bukan hobiku, tapi karena Tia, aku tidak mau menyerah.

Sepulang dari kantor, aku melewatkan rutinitas berkumpul di kedai kopi. Walau hatiku ingin langsung pulang ke rumah dan duduk memandangi mawar-mawar itu. Setiap hari kurasakan hari-hari terasa kosong. Kuharap besok Tia sudah kembali. Lalu kami bertemu di dalam bis kota, kemudian menghabiskan waktu di warung makan, bersenda-gurau seperti hari-hari yang lain.

Hidupku tanpa kusadari mulai terganggu tanpa kehadirannya.Membuatku resah dan benar-benar takut. Setiap pagi kukeluhkan kerisauanku kepada mawar-mawar itu meski mereka tidak mengerti bahasaku. Semakin hari pikiranku makin tidak jernih. Hatiku takk henti-henti bertanya mengapa dia tidak juga kembali? Selalu kutunggu dia di bis saat perjalanan pulang, tapi itu sia-sia saja.  Ke manakah kamu? Kubuang pandanganku ke luar jendela. Mengamati jalanan seraya berdoa berharap melihat sosoknya. Kuamati para pengamen jalanan berlalu-lalang dengan alat musik bermacam-macam bentuknya, mereka menunggui lampu merah, bercengkrama dengan teman-temannya atau asyik berjongkok sendirian.

Sudah seminggu lewat lima hari! Aku sontak menoleh ke arah pintu bis saat seorang pengamen naik dan membunyikan gendangnya, aku seketika ingat pada Tia. Bukankah dia orang yang dulu mengamen bersama bersama Tia? Barangkali dia tahu kabarnya. Tidak ada salahnya aku mencari tahu. Saat pengamen itu melangkah menyodorkan gelas plastik ke setiap penumpang, termasuk padaku.  Kami saling pandang,“Di mana Tia?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Ada di Solo. Sedang mengurus anaknya yang sakit.” Jawabnya santai, seakan sengaja tidak memperhatikan lembaran uang yang kumasukkan ke dalam gelasnya. Aku tersentak kaget mendengar jawabannya, seketika perasaan marah menjalari sekujur tubuhku. Entah kenapa reaksiku seaneh ini,“A…anak?  Tidak salah?” tanyaku sambil berusaha tenang. Pengamen itu mengulangi jawaban yang sama.

“Mbak mau saya antar ke sana?” tanyanya dengan sungguh-sungguh. Aku tidak berkata sepatah kata pun kecuali meminta kondektur menghentikan bis saat sampai di tempat tujuanku. Lalu kami berdua turun dan berjalan berdua, pengamen teman Tia itu bernama Gito, dengan suara jelas menyebutkan alamat rumah Tia saat kuputuskan tidak memintanya menemaniku ke Solo. Aku punya alasan sendiri untuk pergi ke Solo.

Aku ingin bicara empat mata dengannya. Selama ini aku menganggap hubunganku dengan Tia bukan sekedar pertemanan belaka. Bukankah kami sama-sama punya keinginan untuk selalu bertemu walau tidak janjian terlebih dahulu? Tia selalu menatapku dengan hangat. Bukankah dia berbeda cara saat menatap Gito atau pada orang lain ? Juga dengan ciuman yang sesekali mendarat di bibirku? Juga beberapa keintiman yang hampir membuat kami nyaris terhanyut dalam percintaan terlarang…Oh, Aku ingin meminta kejelasan. Dia membuatku benar-benar marah. Rupanya, ada sisi kehidupan yang sengaja ditutup-tutupinya, takut aku mengetahui lalu aku akan menjauhinya? Pantaskah jika itu kulakukan? Mana ada orang yang sudi jadi objek pelampiasan hasrat semata? Tia menyebalkan, membuat hatiku berbunga-bunga lalu harus layu dengan cepatnya.

Aku tidak peduli apa reaksi atau apa alasan yang akan terucap dari mulutnya.  Kemarahanku sudah memuncak ke ubun-ubun dan tidak akan kuredam meski di lubuk hati ada suara yang berkata lain. Ini hinaan yang tidak pantas dimaafkan! Memang, dia berhasil meluluhkan hatiku. Perjalanan sejam dengan kereta api mengantarkanku ke kota Solo. Kereta berangkat agak terlambat sehingga menambah kekesalanku. Aku memanggil ojek yang mangkal di stasiun Purwosari. Setelah tawar-menawar harga, kami pun berangkat. Tukang ojek itu berusaha memancing pembicaraan, tapi selalu kujawab dengan ketus. Dia pun akhirnya diam.

Tempat tujuanku masih agak jauh di luar kota. Aku tidak begitu kenal dengan daerah ini.  Kami melewati areal hamparan hijau persawahan di bawah terik sengatan matahari. Begitu jalan aspal habis, ternyata perjalanan masih panjang. Aku mulai mengumpat dalam hati. Kenapa harus repot-repot datang ke daerah terpencil seperti ini?  Hatiku bertambah kesal, belum lagi bokong sakit dan perut mual.

Didera rasa kesal dan lelah, ojek tiba-tiba berhenti di depan sebuah jembatan bambu, yang hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki. Di bawahnya ada sungai kecil dan batu-batu besar. Hanya sampai di sini perjalanan dapat ditempuh dengan kendaraan. Si tukang ojek bilang tempat tujuanku masih beberapa ratus meter lagi.  Tahu begini aku memilih pulang saja, kekesalanku memuncak,“Mas, kita kembali ke stasiun saja!” Mendengar ucapanku, si tukang ojek terkejut,“lho, mbak ini bukan saudaranya mbak Tia tho?”

“Nanti kalau Mas perlu isi bensin, biar saya yang bayar.  Ayo mas, berangkat.”

Meski bingung, tetapi tukang ojek itu segera menyalakan mesin motornya yang berisik. Belum sempat aku naik ke motor, tiba-tiba si tukang ojek menunjuk ke seberang,“lha, itu orang yang Mbak cari. Mbak Tiaaa!  Mbak!” Seru si tukang ojek dengan lantang seraya melambaikan tangan. Aku tidak sempat menghentikannya. Pandanganku bertemu dengan Tia. Kulihat raut wajahnya yang nampak senang melihatku,dia tersenyum, meruntuhkan sedikit kerasnya hatiku.

Tia menyeberangi jembatan dengan lincah lalu menemuiku. Si tukang ojek memutar motornya lalu pergi begitu saja padahal belum kubayar sepeser pun. Mau kuhentikan tapi tanganku keburu dicekal,“sudah. Dia tidak mau dibayar. Motor itu milikku,” kata Tia menghentikanku menahan si tukang ojek. Kutepiskan tangannya saat teringat kekecewaanku.

“Sore nanti, rencananya aku kembali ke Jogja. Sudah cukup lama kamu kutinggal pergi.” Ujarnya.Aku mendengus. Kata-katanya terdengar seperti aku merasa kehilangan dirinya.

“Ayo kita ke rumahku. Ada seseorang yang ingin kuperkenalkan denganmu,” ajak Tia seraya menarik tanganku.

“Aku sudah tahu.” Jawabku menahan getir.

Dahinya berkerut lalu menatapku dalam-dalam. Pipiku disentuhnya lalu kubiarkan dia mendaratkan ciuman. Ingin kupeluk tubuh itu namun hati enggan benar, namun aku tidak bisa berbohong bahwa dia membuatku telah jatuh rindu.

“Ayolah.  Ikut…” Pintanya dengan membisik. Berat langkah ini saat mengikutinya.  Belum siap aku menerima kenyataan yang sudah mulai terbayang dalam benakku. Pasti dia akan membawaku ke sebuah rumah yang dihuni bersama suami dan anaknya.Sebuah keluarga bahagia yang otomatis menghempaskanku ke dalam kepedihan, keluar dengan kasar dari sebuah lingkaran suci yang sempat kumasuki.

Perjalanan terasa bagiku sangat jauh. Dia bercerita banyak namun hanya sedikit yang dapat kusimak. Semakin dekat dengan tujuan, semakin kacau pikiranku. Aku terus menunduk menghindari tatapannya. Tia pasti menyadari kejanggalan sikapku bila dia ingat memori-memori indah bersamaku.Yah, sebelum dia pulang ke Solo.

Entah sejak kapan dia merangkul pinggangku lalu menyangkutkan ibu jarinya di lubang ikat pinggangku. Aku merasa risih saat itu masih dilakukannya ketika kami melewati rumah-rumah penduduk. Tetapi dia sepertinya tidak peduli bahkan melambaikan tangan pada mereka dianggap wajar? Memeluk perempuan sambil berjalan? Apakah keakraban seperti ini wajar dilihat penduduk desa? Bukankah mereka orang-orang yang relijius dan menentang sesuatu yang di luar norma agama termasuk hubungan terlalu dekat dengan sesama jenis? Tapi, kenapa aku mengira ini berlebihan? Memangnya aku pacarnya? Bukan, kok!

Kami sampai di depan rumah sederhana bercat putih. Rumah yang ukurannya lebih kecil dari ukuran kontrakanku, tetapi halamannya lebih luas. Hanya tanahnya tanpa dilapisi rumput. Pagarnya dari tanaman setinggi lutut orang dewasa.     Kulihat seorang bocah enam tahun tengah bermain bola plastik bersama seorang pria.  Saking asyiknya sampai tidak menyadari kedatangan kami. Tia memanggil sebuah nama. Si bocah menolehkan wajah ke arah kami. Dia tersenyum memperlihatkan gigi-gigi yang belum lengkap kemudian berlari ke arah kami dan merengek minta digendong Tia.

Layaknya seorang ibu yang pastilah akan dekat dengan anaknya saja, batinku mulai meratap.  Wajah mereka mirip!  Aku membuang muka, berusaha menahan air mata agar tidak sampai menetes. Tolol sekali jika itu sampai terjadi. Toh, kami tidak punya hubungan apa-apa. Aku bahkan tidak tahu apa-apa tentangnya.

“Mbak, Mbak pacarnya mama ya?” tanya si bocah polos tepat menyorongkan wajahnya di depan wajahku.Aku melongo lalu melirik Tia.

“Bukan. Cuma teman. Itu ayah kamu yang tadi main bola sama kamu?” tanyaku sebisa mungkin mengalihkan kegugupan.Bocah itu menggeleng,“Itu Mas Nino, Mbak. Masku.” Tunjuk bocah itu ke dirinya sendiri.Aku kembali melongo. Rupanya, anak Tia tidak hanya satu. Yang sulung, sudah cukup besar pula.

“Mbak, kata Mama pas nemani Lilo, Mama mau datang sama pacar Mama. Tapi pacar Mama harus kerja. Tidak bisa ikut. Padahal Lilo pingin ketemu. Kalau Mama telpon Lilo pasti cerita soal Mbak.” Lilo mulai mengoceh dan Tia menurunkan Lilo dari gendongan lalu menyuruhnya kembali bermain. Tia mengajakku masuk ke rumah, di dalam ternyata sangat nyaman, tidak banyak barang yang memenuhi ruangan sehingga terkesan luas.

“Mau minum apa? Aku punya blender.  Kubuatkan jus mangga, ya?”

“Ng…Tia.  Tidak perlu repot-repot. Aku hanya mampir, kok.”  Aku berdiri lalu hendak meraih tas,“Menginaplah. Kita pulang sama-sama besok.” Cegah Tia seraya menatapku.

“Besok aku harus pagi-pagi ke kantor. Ada lembur.” Jawabku memberi alasan sekenanya.

“Lilo kena demam dan aku tidak bisa meninggalkan dia sebelum benar-benar sembuh.  Itu sebabnya aku lama di sini. Aku merindukanmu. Aku memikirkanmu,” ungkapnya seraya membelai pipiku. Dia tahu aku akan luluh dengan sikapnya, sehingga selama ini mudah saja dia memperalatku!

“Kembalilah pada keluargamu. Bocah itu membutuhkan seorang ibu yang bertanggung jawab. Aku harus buru-buru. Sampaikan salamku untuk suamimu.”

Tia memaksaku tetap duduk. Nafasnya terhela panjang. Lelah melihat sikapku yang emosional,“kamu tidak suka dengan Lilo?” tanyanya pelan.

Bahuku terangkat.

“Dia tidak mengenal orangtuanya, karena sejak kecil sudah ditinggal pergi.  Semua orang di desa ini tidak ada yang bersedia membesarkan Nino dan Lilo karena biayanya tidak sedikit.  Aku berusaha mencari uang di Jogja untuk biaya hidup mereka sampai sekarang. Rumah ini diberikan padaku oleh warga sebagai tempat berteduh, jika kamu ingin tahu mengapa seorang pengamen desa sanggup memiliki rumah sendiri.”

Aku terdiam.

“Tempo hari aku benar-benar ingin mengajakmu kemari karena Lilo berulang kali memintanya. Dia akan sangat senang bisa bertemu denganmu. Selama ini aku selalu sendiri.  Hanya punya teman-teman sesama pengamen,”

“Aku bukan pacarmu, Tia.  Hubungan kita tidak lebih dari sekedar teman biasa. Apa untungnya kamu membohongi dia?  Dia masih kecil.”

Tia tidak bisa menjawab perkataanku. Tidak ada kata-kata terucap dari mulutnya kini,  biasanya dia bisa bersikap tenang dan penuh perhitungan. Tapi kali ini agaknya dia mati gaya.

“Ya, kamu benar. Aku hanya bermimpi terlalu tinggi dan lupa siapa aku ini. Mana mau seorang pekerja kantoran…”

“Aku mau,” Potongku cepat,“itu tidak perlu kita permasalahkan. Tapi aku ingin tidak ada lagi rahasia yang akan membuatku deg-degan setiap saat seperti sekarang…!”

Kami saling pandang, “jadi, nanti sore kita kembali ke Jogja,ya? Banyak hal yang perlu kita bicarakan. Aku agak merasa risih di sini.”

Tia mengangguk setuju.  Dia menyentuh punggungku.

“Besok kamu benar-benar lembur?”

Aku tersenyum penuh misteri ke arahnya. Rasanya dia bisa membaca isi pikiranku dengan mudah, sebab dia memberi senyuman penuh makna.