Published on October 22, 2010, by in Cerpen.

Laju kereta mulai terasa melambat memberi isyarat bahwa sebentar lagi kereta akan memasuki stasiun. Sarah melihat ke luar jendela.  Langit  kota ini tidak secerah langit di Surabaya. Sinar mataharinya pun tidak menyengat, namun tetap membuat sekujur tubuh berkeringat. Naik kelas ekonomi memang tidak akan senyaman kelas eksekutif atau bisnis. Sarah tidak punya pilihan lain. Uang sakunya hanya cukup untuk perjalanan masyarakat umum, dia pulang kembali ke kota kelahirannya bukan untuk menengadahkan tangan pada orang tuanya. Tidak pula sekedar menghabiskan liburan pondok pesantren yang biasanya berlangsung cukup panjang, tapi disebabkan  Sarah merindukan seseorang.

Kedatangan kereta telah dinanti-nanti oleh sanak-saudara para penumpang. Keterlambatan memaksa mereka tetap menunggu dalam ketidakpastian. Janganlah berharap petugas stasiun akan memperlihatkan wajah bersalah dengan keterlambatan itu. Keterlambatan adalah hal biasa, seolah menunggu sebuah pekerjaan menyenangkan. Padahal tidak ada orang yang menunggu tanpa sedikit pun berkeluh pada orang-orang di sekitarnya.

Sarah mulai mengangkati barang-barang bawaannya. Satu tas tangan, satu tas pakaian, dan dua tas kresek berisi oleh-oleh makanan khas daerah Jawa Timur. Dia berdesak-desakan dengan para penumpang. Dikepitnya tas tangan yang berisi uang seadanya serta ponsel model kuno yang masih bernada dering monoponik dengan erat, siapa tahu diantara penumpang ada yang berniat jahat dan mengambil hal milik orang lain. Untungnya, Sarah belum pernah mengalami kejadian buruk selama dua tahun memakai jasa kereta api saat pulang kampung.

Begitu menginjak lantai peron, Sarah merasa lega. Dia membawa barang-barang bawaannya ke salah satu bangku lalu meletakannya. Dirapikannya jilbab dan blus panjangnya yang terlihat kusut. Rok hitam yang dia kenakan saat ini adalah salah satu pakaian yang kerap dia dikenakan jika berada dalam pondok.

Pandangan Sarah beredar mencari sosok pria berkumis tipis dan berkulit agak kecoklatan.  Barangkali dia pun tengah mencari Sarah. Pria yang selalu menjemputnya bila dia pulang. Bukan ayahnya, tetapi kakak laki-lakinya yang bernama Ridwan. Sarah menghubungi ponsel kakaknya. Tanpa menunggu terlalu lama Ridwan telah menemukan adiknya, memeluk Sarah dengan erat.  Sudah lebih enam bulan tidak dilihatnya wajah cantik sang adik. Sejak kecil, mereka sangat sulit terpisahkan, selalu kompak dan bermain bersama, ah, itu semua terjadi sebelum sebuah peristiwa yang menyebabkan Ridwan harus rela melepas adiknya bersekolah di kota lain,di sebuah lembaga yang diharapkan kedua orangtuanya bisa mengubah Sarah. Bukan mengubah, lebih tepat menyembuhkannya. Satu istilah yang mengiris-iris hati Sarah, perempuan berdarah Jogja-Bangka itu.

Kini penampilan Sarah memang jauh berubah. Rambut pendek yang dulu dicat sedikit pirang sudah tertutupi jilbab rapi. Pakaian yang dahulu hanya T-shirt ketat sudah tidak lagi pernah dikenakannya ke luar rumah. Celana jins belel pun sudah tidak pernah disentuhnya lagi. Kini, Sarah sudah tahu banyak tentang agama mengalahkan ayahnya yang seorang penceramah sholat Jum’at di mesjid Abdurrahman Saleh. Baru dua tahun Sarah dimasukkan ke pondok  namun para ustazah mengangkat jempolnya untuk Sarah, memuji ketekunannya beribadah, seolah menghapus sosok Sarah di masa lalu. Masa lalu suram dan hina menurut kedua orang tuanya.

Ridwan membonceng adiknya dengan sepeda motor tua.  Meskipun sering mogok namun dia tidak berniat untuk menggantinya dengan sepeda motor baru yang modelnya sudah beragam. Suara knalpot semakin berisik dan mengganggu pendengaran.  Apa mau dikata, Ridwan terlalu keras kepala.  Entah mengapa motor itu masih juga dipertahankan.  Padahal gajinya sebagai guru les privat di sebuah lembaga bimbingan belajar nasional jika disisihkan akan cukup untuk membeli seunit motor Supra Fit.

Sarah memeluk pinggang kakaknya. Duduknya hanya bisa menyamping sebab dia mengenakan rok.  Tas pakaiannya diletakkan di dekat kaki Ridwan dan kedua tas kresek serta tas tangan dipegang oleh Sarah.  Perjalanan mereka menghabiskan waktu lima belas menit jika tidak terjebak kemacetan. Mereka melewati jalan-jalan tikus untuk menghindari kemacetan meskipun artinya harus menempuh jarak lebih jauh.

“Kamu puasa?” tanya Ridwan sambil sedikit menolehkan kepala.

“Sedang halangan, Mas.” jawab Sarah.

“O.  Mas juga tidak puasa.  Tadi pagi tidak sahur.  Kamu tahu kan penyakit maag yang Mas derita bisa kambuh sewaktu-waktu.”

“Kalau malas tidak perlu pakai alasan sakit.” sahut Sarah.

Ridwan tersenyum.  Dia mengubah spion kirinya agar bisa melihat sang adik tetapi tidak bisa melihat wajahnya.

“Aku heran mengapa kalau aku bandel tidak pernah ditegur ayah-ibu sepertimu, Dek.” ujar Ridwan.

“Mas ingin masuk pondok pasantren atau bagaimana?  Aneh.  Orang justru berusaha supaya tidak perlu ke sana.  Apa enaknya?  Tidak bebas.  Makan seadanya.  Tidur berbagi kamar dengan orang lain.” sahut Sarah.

“Ada nikmatnya. Tidur berdempetan dengan perempuan. Bukannya memeluk guling.” jawab Ridwan enteng.

Sarah terdiam. Dia mengedarkan pandangan dan menahan supaya air matanya tidak menetes. Menyadari kalimatnya menusuk relung hati sang adik, Ridwan cepat-cepat meminta maaf.  Dia benar-benar menyesal.

“Tidak apa-apa. Mas benar. Itu memang menyenangkan bagi lesbian yang sedang mencari cinta. Aku tidak sedang mencari cinta. Aku bahkan kehilangan cinta itu.” tukas Sarah dengan nada sedih.

Ridwan ingin sekali memeluk adiknya agar merasa lebih tenang. Mungkin itu bisa dia lakukan begitu tiba di rumah.  Perjalanan mereka masih jauh. Ridwan dapat merasakan luka yang menyebabkan adiknya seolah kehilangan arah untuk berjalan. Sarah seperti tiba-tiba menjadi idiot. Pandangan matanya kosong dan dingin. Dia memendam seluruh rasa kacau balau di dalam hatinya tanpa pernah mau dibaginya dengan Ridwan meskipun kakaknya bersedia untuk menampung duka laranya.

Dua tahun lalu, tepatnya di malam perayaan kelulusan SMU.  Ratusan anak muda di sebuah sekolah swasta mengadakan sebuah pesta kecil-kecilan termasuk Sarah yang hadir dengan membawa teman-temannya dari sekolah lain. Acara itu pada awalnya milik panitia namun menjelang larut malam setiap orang punya tujuan masing-masing. Sarah pun meninggalkan tempat bersama teman-temannya dengan menggunakan mobil milik kekasihnya, Eva.  Sarah duduk di belakang kemudi sementara Eva di sebelahnya. Tiga teman Eva berdesak-desakan di kursi belakang. Tujuan mereka selanjutnya adalah sebuah klub malam yang seringkali dimasuki oleh pasangan itu. Letaknya tidak jauh dari sebuah mal besar.  Di sana Eva mengajak Sarah menenggak beberapa gelas minuman keras yang dicampur-campur oleh bartender.  Alhasil keduanya mabuk dan terpaksa diantarkan pulang oleh teman-temannya begitu klub itu akan tutup. Eva meminta agar Sarah menginap di rumahnya. Antara sadar dan tidak, Sarah tidak menolak. Begitu sampai, keduanya dipapah menuju kamar tidur Eva. Kedua orang tua Eva hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku anak mereka satu-satunya.

Keesokan harinya Eva mengantarkan Sarah pulang.  Sarah menyetir dengan satu tangan dan tangan lain menggenggam jemari kekasihnya yang lentik. Ada sebuah firasat aneh menghinggapi pikiran Sarah.  Seperti sebuah pertanda ada sesuatu hal besar akan terjadi.  Entah itu hal yang baik atau tidak. Ketika sampai di depan rumah, Sarah hanya terdiam. Eva menyentuh pipinya dengan lembut. Sarah melihat ke sekeliling dan tidak melihat ada orang di sekitar sana. Diciumnya bibir sang kekasih dengan mesra sambil memeluknya. Mereka terhanyut sampai tidak menyadari ketika ayah Sarah menyeberangi jalan dan melihat perbuatan bejat anaknya. Kejadian itulah alasan mengana Sarah dimasukkan ke sebuah pondok pesantren. Dia dianggap sakit dan harus disembuhkan dengan terapi agama. Jika tidak dia akan dinikahkan oleh orangtuanya.  Sarah menolak pilihan kedua.  Dia berpikir lebih baik mengubah dirinya menjadi seseorang yang baru, ketimbang menikah di usia muda walaupun Eva memohon padanya agar tidak pergi. Eva merelakan jika Sarah menikah, asalkan mereka tetap bersama secara sembunyi-sembunyi. Akan tetapi Sarah belum siap menerima laki-laki manapun juga dalam hidupnya.  Dia tidak bisa membiarkan laki-laki menyentuh apalagi memilikinya. Dia cinta mati pada Eva. Sarah bersumpah tidak akan mencari pengganti Eva di tempat barunya.

Tapi Eva tidak mau menunggu. Sarah pernah melihat Eva jalan dengan perempuan lain.  Dia bisa melihat ikatan batin yang kuat di antara mereka. Hubungan emosional yang sama seperti yang dulu pernah terjalin di antara mereka.  Sejak SMP kelas dua Eva meminta Sarah menjadi pacarnya.  Sarah tidak mengira cinta monyet itu akan berlanjut sampai SMU.  Hubungan mereka seintim suami-istri.  Eva jadi feminin dan Sarah yang tomboy jadi maskulinnya. Mereka bermain api berlandaskan cinta. Kamar Eva lebih sering dijadikan tempat mereka bermesraan ketimbang kamar Sarah yang sempit.

Kenangan itu telah terkubur. Eva tidak lagi mau menemuinya. Dia enggan berdekatan dengan Sarah yang berbeda. Dia hanya tahu Sarah telah berubah dan berjalan di jalan yang diinginkan kedua orangtuanya. Tanpa pernah berbelok lagi.

Sarah ingin diberi kesempatan berbicara tentang dirinya. Ia ingin mengatakan bahwa dari sekian banyak perubahan ada satu yang tetap kukuh. Dia tetaplah seorang lesbian, bukan pesakitan yang perlu disembuhkan.

Di pesantren banyak lesbian sepertinya. Bahkan lebih nekat. Sesama santri ada yang berpacaran dan di depan teman-teman mereka dengan berani menunjukkan kemesraan. Sarah pun tahu mereka sama sekali bukan hanya pamer ciuman. Apa yang mereka lakukan sama dengan kelakuan Sarah dan Eva. Mereka tidak peduli jika ada yang merasa jijik. Mereka menganggap cinta itu suci. Sarah tidak tahu harus berkata apa.

Sarah menolak cinta yang datang kepadanya. Nurul pernah menyatakan perasaan, namun Sarah menolak tanpa alasan. Padahal Nurul jauh lebih cantik dari Eva. Masih berdarah Arab hingga wajar jika fisiknya pun berbeda dengan Eva yang langsing akibat diet ketat. Sampai saat ini Nurul masih memandangnya penuh harap.

Hari pertama di Jogja telah dilewati Sarah. Menjelang lebaran kesibukan orang bukan lagi sekedar beribadah, tetapi berbelanja. Memborong bahan-bahan kebutuhan pokok yang harganya sudah mulai naik dua kali lipat atau lebih. Sarah tidak terkejut jika orang-orang yang datang ke mesjid untuk sholat Tarawih sudah mulai berkurang drastis. Tidak hanya jamaah perempuan, jamaah laki-laki pun seolah malas untuk ke mesjid. Sarah diajak Ridwan berjalan-jalan dengan motor tuanya ke Malioboro sehabis makan malam. Berbaur dengan kendaraan lain yang memadati jalan. Sarah mengenakan celana kain dan jaket.  Tidak lupa jilbab kaus warna hitamnya. Dia tidak tahu ke mana motor itu akan berhenti. Dia menikmati suasana jalan setelah seharian tadi terus di rumah dan menonton TV. Buku-buku yang tersimpan di dalam tas enggan disentuhnya.

Ridwan menunjukkan satu pusat perbelanjaan yang baru saja dibuka. Bangunannya megah dan terletak di daerah strategis yaitu di pinggir jalan utama. Pantas jika dijadikan tujuan untuk mencuci mata. Mereka mampir di sana sebab Ridwan mengatakan ingin membeli sebuah kamera digital yang sedang diskon. Sarah berjalan di sampingnya.

“Kalau kita akan berpapasan dengan lesbian tolong kasih tahu aku, ya.” bisik Ridwan di dekat telinga adiknya. Sarah melotot dan menginjak kaki kakaknya.

“Jangan begitu. Tidak lucu kan kalau aku berkenalan dengan les…Dek, itu Eva!  Di butik seberang sana!” tunjuk Ridwan.

Sarah menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Ridwan. Ia menghentikan langkah lalu mengamati. Kakaknya benar. Dia melihat Eva di dalam butik milik perancang ternama sambil menggandeng seorang perempuan yang usianya jauh lebih tua. Rambutnya pendek potongan jaman dahulu, memakai hem berwarna coklat dan celana jins biru.

“Itu bukan pacar yang kulihat sebelumnya. Tampaknya seorang eksekutif, mungkin usia tiga puluh atau lebih. Maskulin juga. Apakah kalian tidak bisa berpacaran dengan yang…”

“Itu masalah selera. Eva tidak suka yang feminin seperti dirinya sendiri.”

“Dek, sebaiknya kita teruskan jalan-jalan kita. Pacarnya menatapmu dengan curiga.” Ridwan menarik tangan Sarah agar mengikutinya.

Sarah bukannya menurut malah balik menatap perempuan itu dengan tidak kalah tajam.  Darahnya mendidih. Eva bergelayut manja tanpa peduli ini adalah tempat umum. Dulu mereka tidak bisa begitu. Sarah tidak pernah siap terlalu terbuka kepada orang umum, kecuali teman-temannya. Ridwan lagi-lagi berusaha menarik adiknya agar masuk ke sebuah toko kaset yang terdekat dengan mereka. Sarah mengalah.

“Kamu mau apa?  Jangan ulangi lagi.  Percuma kamu memakai pakaian seperti ini kalau kamu tetap seperti dulu.” Omel Ridwan.

“Mas, kamu jangan picik.Tuhan tidak menciptakan sesuatu untuk dikontradiksikan.  Tidak ada yang berharap dilahirkan bernasib seperti aku. Jika aku menjalani apa yang telah Tuhan gariskan dimana letak kesalahannya?”

“Ayah dan ibu sangat mengharapkan kamu normal.”

“Jangan tekan aku dengan memvonis abnormal, Mas.  Aku tidak sakit. Aku hanya jatuh cinta dengan Eva. Aku tidak pernah menyakitinya seperti yang dilakukan seorang laki-laki kepada pacarnya. Aku memakai tubuhku untuk menjaga dia. Orang sakit jiwa mana bisa melakukan itu? Pikir, Mas!” Sarah menunjuk kepalanya.

“Dimata khalayak kamu tetap salah, Dek. Kamu adalah bagian minoritas yang akan selalu ditindas orang banyak. Kenapa tidak bisa berdamai dengan realita?  Cobalah!  Lihat Eva.  Dia tidak …”

“Sarah?”

Ridwan dan Sarah serentak menoleh ketika mendengar sebuah suara tidak jauh dari mereka berdiri. Ridwan menatap adiknya kemudian berjalan menuju rak DVD baru rilis.  Pandangannya tetap mengawasi dari jauh. Sarah dan Eva terpaku di tempat masing-masing. Eva tidak bersama pacarnya. Dia sendirian sambil menenteng tas belanjaan.

“Sarah, aku…kangen.  Sudah lama sekali ya.  Apa kabar?” tanya Eva agak kaku.

“Baik.  Kamu cantik sekali, Va.” Sanjung Sarah terus-terang.

Eva tersipu malu. Dia melangkah mendekati Sarah. Pandangannya tidak beralih seolah Sarah menghipnotisnya. Tas-tas belanjaan dia letakkan didekat kaki Sarah. Dipeluknya Sarah dengan erat. Ridwan melongo dan nyaris menjatuhkan DVD yang sedang dipegangnya. Sarah balas memeluk tetapi segera menjauhkan tubuhnya.

“Aku sungkan menyapamu, nanti ada yang cemburu.” ungkap Sarah dengan jujur.

Eva mencubit pipinya dengan gemas. “Jangan sembarangan ya.  Dia laki-laki. Sudah kesulitan membedakan antara keduanya, ya?”

“O.  Jadi kamu sudah…” Sarah terlihat bingung.

“Apa? Mau bilang apa? Aku masih suka perempuan. Dia temanku. Semenjak kamu pergi aku sering ditemani jalan sama orang-orang dari komunitas lesbi dan gay. Aku jadi pengurus untuk acara-acara yang mereka buat.  Tidak ada orang lain di hatiku, Ra.  Demi Tuhan.”

“Kenapa?  Padahal sudah dua tahun…”

Eva mengangguk. Sekilas dia melirik Ridwan.

“Kamu juga, kan? Kakakmu yang bandel itu memberi laporan terus sama aku. Tanpa disuruh, aku pasti menunggu kamu kembali dari sana. Kita bisa melanjutkan sesuatu yang pernah terputus diantara kita. Cuma omong kosong yang bisa memisahkan kita. Bersabarlah, sayangku.  Teruslah bersandiwara cinta kita telah berakhir.”