Cerpen

Post by: admin, November 24, 2012 1:34 pm : Cerpen

cerpen 2

assas

Comments are closed
Post by: admin, October 22, 2010 7:13 pm : Cerpen

“Putus” by NV

Laju kereta mulai terasa melambat memberi isyarat bahwa sebentar lagi kereta akan memasuki stasiun. Sarah melihat ke luar jendela.  Langit  kota ini tidak secerah langit di Surabaya. Sinar mataharinya pun tidak menyengat, namun tetap membuat sekujur tubuh berkeringat. Naik kelas ekonomi memang tidak akan senyaman kelas eksekutif atau bisnis. Sarah tidak punya pilihan lain. Uang sakunya hanya cukup untuk perjalanan masyarakat umum, dia pulang kembali ke kota kelahirannya bukan untuk menengadahkan tangan pada orang tuanya. Tidak pula sekedar menghabiskan liburan pondok pesantren yang biasanya berlangsung cukup panjang, tapi disebabkan  Sarah merindukan seseorang.

Baca Selengkapnya

2 Comments »
Post by: admin, October 22, 2010 7:11 pm : Cerpen

“Menggapai Langin Ketujuh” by Estha Vadose

Kirana masih memiliki banyak waktu untuk mengambil keputusan karena tiket pesawat terbang belum dimilikinya hingga detik ini. Namun keputusan itulah yang sangat sukar untuk diambil. Ia ingin beranjak dan berlari pulang dengan alasan yang sangat sederhana, “home sick”. Tetapi sebagai anak satu-satunya yang lahir dari rahim ibunya, keinginannya kali ini untuk pulang dengan alasan “home sick” sepertinya dapat diterima. Hidup merantau selama dua tahun di kota kembang Bandung setelah kelulusannya mendapat gelar S1 sarjana sains telah membuat hidup Kirana lebih mandiri dan dewasa . Dan bukan itu saja, ia memilih kota Bandung di antara kota-kota lainnya dikarenakan hatinya telah tertambat oleh seseorang di kota ini jauh sebelum ia lulus dari kuliah.

Baca Selengkapnya

Comments are closed
Post by: admin, October 22, 2010 7:10 pm : Cerpen

“Ketika Langit Senja” by Alvi A.H

“BRAKK!!!”

Pintu tiba-tiba dibuka dari luar dengan sedemikian kerasnya hingga engselnya nyaris putus dan berayun-ayun sisa hempasan tangan kuat laki-laki yang sedang berdiri sambil bertolak pinggang di depanku. Mukanya merah padam. Matanya membesar tak berkedip menatapku. Dengus nafasnya jelas terdengar, nampak sekali laki-laki berkulit legam ini sedang sangat naik pitam.

Seorang perempuan cantik kemudian tergopoh-gopoh muncul di belakangnya. Pandangan kami bersirobok beberapa saat. Raut mukanya kusut tampak habis menangis. Mata kecil perempuan itu sembab. Hidungnya yang kemerahan kembang-kempis. Ia kemudian memegangi lengan laki-laki yang seakan hendak memangsaku hidup-hidup di hadapanku ini.

Baca Selengkapnya

Comments are closed
Post by: admin, October 22, 2010 7:09 pm : Cerpen

“Gak Penting Banget Gitu Loch..!!” by Little Dyke

Pagi ini benar-benar hari bebasku dari perbudakan. Tidak ada lagi rok mini dan setelan blazer yang menggerahkan. Setelah lima hari berturut-turut mematuhi segala birokrasi perkantoran, hari Sabtu, merupakan hari kemerdekaan yang kuperingati setiap minggunya. Seperti biasa, maka hari kemerdekaan ini akan kumanfaatkan untuk melepaskan diri dari keterikatan. Yang ingin sekali kulakukan hari ini, seharian mencuci mata di Mall! Tanpa harus membeli sesuatu! Ah, itu mungkin sering menyebalkan pramuwisma yang sudah bersusah payah melacurkan bibirnya menjajakan sebuah produk. Tak jarang kumanfaatkan situasi seperti itu untuk sekedar mengobrol dengan cewek cuco’. Pramuwisma tersebut tidak menyadari, ada seorang lesbian yang sedang beraksi. Hehe…

Baca Selengkapnya

Comments are closed
« Page 1, 2 »
 
Home / Galeri Karya / Cerpen