Published on October 22, 2010, by in Puisi.

jiwa tersapu sepi
kelam makin gelapkan
lembaran caci-maki memahat geram
jadi catatan-catatan
kapankah kau ngerti adaku ?
pilu, tak ada yang mau peduli

cintaku terpupuk
ditanam di dinding-dinding pertahanan
berdiri tegak, kuarungi pendam geloraku
ditiap-tiap rasa aneh terpendam dalam raga

malu tampak
risihku bercampur memburu aku
salah siapa bila beda kupandang
: ini langkah kaki wanita tangguh
terkuras habis khayalan
kosong lelaki manapun
renungan janji luruh ke selokan kecil
dicelah mana kayu tersumbat
mengemis asaku
tertampar lontar, tertusuk lubuk, teriris tangis
tahukah di mana letak kasih
tempat terindah duka berlindung

bila berbalik
demi Tuhan! tak juga aku mengerti
celaka tali karena ikatan
hati mana berbalas ampun
saat ungkap gempar bernaung teriak
keluarga, teman apalagi orang lain
semua tak tahu derita ini
ditengok rusak lapisan luar
tak terselam dasar samudra

meraung belukar terbilang ganjil
aku berusaha segenap daya
demi proklamirkan kelaki-lakian
lalu cintaku seorang perempuan

misteri cintaku terbongkar
bukan salah jika aku seperti ini
seribu asa dimengerti

aku manusia biasa !